Archive for December 27th, 2005

Help: Kasus Pembunuhan

Beberapa minggu sebelumnya, aku pernah memberikan pada Gitaka satu kotak karton besaryang berisi beberapa lembar bon pembelian. Aku lupa bahwa kotak itu juga berisi lembaran-lembaran iklan yang bersangkut paut dengan meninggalnya orang yang kami banggakan, Gus Gusan, yang tak lain adalah ayah Gitaka. Ada sobekan kertas yang mengiklankan “cuci gudang” perangkat keras di suatu toko, ada iklan tentang apartemen yang disewakan yang terletak pada lantai ke-6 pada bangunan setinggi 30 meter; ada bagian Koran yang memuat artikel tentang terbunuhnya Gus Gusan, dan ada foto mengenai kejadian kriminal yang aku ambil dengan kameraku. (Pada saat usia 11 tahun, aku memimpikan untuk jadi detektif yang akan dapat menemukan pembunuh pada kejadian yang aku abadikan dengan kameraku itu, meskipun sebenarnya itu hanya suatu kebetulan saja.)

Foto itulah yang terus-menerus dipandangi Gitaka. Aku rasa itu bukanlah foto yang menarik untuk diperhatikan, sebab tak nampak adanya sesuatu yang istimewa di dalamnya. Aku mengambil foto itu dengan kameraku kira-kira tiga atau empat jam setelah jasad Gus Gusan ditemukan dan kemudian dipndahkan ke kamar mayat. Gambar yang sederhana itu merekam peristiwa kriminal dan menampakkan bagian depan gedung apartemen. Itulah gambaran yang menarik pandangan mata Gitaka – dan untuk alas an lain, Gitaka merasa tertarik karena gambar itu hasil jepretan kameraku.

Bagian yang sangat menyita perhatian Gitaka adalah bel (untuk tamu) yang ada di dinding apartemen. Lantai pertama, adalah toko perangkat keras. Lantai ke-dua adalah apartemen Gus Gusan. Setelah itu terbaca daftar: 3. Samaun Ilham, 4. Johny Malboru, 5. dr. Mardiono, 6. ––, 7. Bira Mahardika, *. Ellise Morgan, 9. Degan Saputra. (Lantai ke-6 sedang kosong, sehingga diiklankan.) Gitaka melihat nama Bira sebagai penyewa di lantai ke-7. Bira sudah cukup tua disbanding Gitaka – perlu aku tambahkan bahwa Bira telah berusia 21 tahun pada saat kematian Gus Gusan. Begitu Gitaka menyadari akan hal itu, yakni tiba-tiba tertarik pada perangkat keras, dan juga pertanyaan padaku (dengan nada selidik) mengenai orang yang tidak pernah dikenalnya, mulai menghadirkan kecurigan.

Artikel pada surat kabar mengingatkanku bahwa tersangka utama pada saat itu aadlah penyewa di lantai ke-9, yaitu Degan Saputra. Polisi tidak pernah berhasil mengungkap motif pembunuhan, atau mendapat cukup bukti untuk menuntutnya. Dengan begitu dia tak pernah secara resmi ditahan atau dituntut.

Gus Gusan meninggal ketika karung cukup besar berisi potongan-potongan besi jatuh tepat di kepalanya di depan toko perangkat keras pada saat dia membuka toko itu pada pagi hari. Koran mengingatkanku banyak hal yang sebenarnya telah aku lupakan. Gus Gusan meninggalkan apartemennya di lantai ke-dua melalui pintu belakang, dan kemudian mampir ke kedai kopi kira-kira pukul 6.30, sebagaimana kebiasaanya. Polisi menduga bahwa setelah tiu dia kembali ke toko melalui pintu depan.

Gus Gusan menyukai alat-alat atau aksesoris, terutama yang dihubungkan dengan jam. Dia mempunyai pencatat waktu adanya panggilan telepon; dia mempunyai jam yang mencatat waktu kapan lampu menyala dan kapan padam lagi. Jam-jam itu semuanya terintegrasi dengan baik dan mempunyai ketepatan mencatat yang luar biasa. Polisi memnemukan bahwa tombol “ENTER” pada kotak alarm terhubung ke pelatuk yang berada tinggi di atasnya untuk melepaskan kantong dari balkon di apartemen Degan. (Demikian dugaan polisi). Jadi kejadian itu adalah ulah Gus Gusan sendiri ketika mematikan alarm yang mengakibatkan kematiaannya karena kejatuhan karung dari langit.

Bagian foto yang menarik bagiku bukanlah daftar nama penyewa, tetapi dua jam dinding. Jam yang pertama di foto itu menunjukkan waktu keseharian. Pada foto itu terbaca 6:51:25.67. Jam dinding yang ke-dua menyatakan “Alarm off: 6:51:23.63” Sekarang aku tahu bahwa aku tidak di sana untuk mengambil foto itu sebelum pukul 7 pagi. Satu-satunya dugaan di benakku adalah bahwa gaya pukul (kantong itu menghantam pada saat jatuh menghambur ke segala arah) telah menghentikan/mematikan gerak jam yang pertama.

Ketika aku lihat dua jam itu, naluri detektifku kembali menyala. Mestinya, semua informasi itu telah cukup untuk meyakinkan, bahwa apakah Degan Saputra adalah pembunuhnya, dan apakah Bira terkait dengan peristiwa tragis tersebut.

Sahabatku, Faluki Sabina dan Gitaka Santya sangat menantikan tanggapanmu. Aku dan Gitaka akan menggunakan bantuanmu untuk meyakinkan orang-orang yang berwenang di sini mengenai peristiwa kematian Gus Gusan yang sebenarnya. Aku hanya bisa membantu mengingat bahwa gravitasi bumi besarnya adalah 9.8 m/det², dan rumus jarak di fisika yaitu:

Jarak = ½ x gravitasi x (waktu)²

Demikianlah, semoga kamu bisa membantu menyelsaikan permasalahan ini dengan baik.

Bagi semuanya yang punya hobi detektif… mohon bantu aku yah. Kirim jawaban dari kasus ini yah…. an4nt_toorz@yahoo.com