Rasa lapar dan haus saat puasa lebih merupakan efek sesaat yang
dapat diatur. Dengan kata lain, rasa lapar dan haus bukanlah tanda
mutlak dari kebutuhan tubuh akan makanan. Kebutuhan energi, untuk
bekerja misalnya, bisa dipenuhi dari cadangan energi pada hati, otot,
lemak di bawah kulit, dan lain-lain. Justru berpuasa merupakan
kesempatan memobilisasi timbunan lemak. Puasa juga mengistirahatkan
“mesin pencernaan” selama beberapa jam. Oleh karena itu, puasa tidak
harus menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan dalam banyak kasus justru
membuat tubuh lebih sehat.
Untuk itu diperlukan pengaturan
berbuka dan makan sahur yang benar. Berbuka dan makan sahur tidaklah
sekadar memasukkan makanan. Selama berpuasa, kadar gula dalam darah
lebih rendah dibandingkan dengan keadaan tidak berpuasa. Padahal, gula
merupakan sumber tenaga yang segera dapat digunakan. Gula inilah yang
perlu segera diperoleh saat berbuka puasa, tetapi jangan berlebihan
sebab akan mengganggu kenikmatan menyantap menu utama.
Berikut
saran Dr. H. Anies, MKK, PKK, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, dalam memilih menu sehat
saat berbuka dan sahur.
a. Ada kebiasaan
salah yang dilakukan sebagian orang, yaitu minum air es atau es yang
dicampur ke dalam minuman sebelum menyantap makanan. Cara ini sangat
merugikan karena es dapat menahan rasa lapar. Akibatnya, hidangan lain
yang lebih bergizi bisa tidak disantap, sehingga mengurangi asupan
nutrisi yang diperlukan. Hindari minum es saat buka puasa.
b.
Saat berbuka mulailah dengan minuman manis hangat dan makanan ringan
yang mudah dicerna. Bisa teh manis, sirop, ditemani kurma, pisang
goreng, atau pisang sale. Setelah kadar gula darah berangsur-angsur
normal bisa dilakukan salat magrib.
c.
Setengah jam kemudian barulah nikmati menu utama. Makanlah secukupnya.
Dua jam kemudian, setelah salat tarawih, dapat menyantap hidangan yang
masih ada.
d. Makan sahur jangan dianggap
sepele. Tidak jarang orang enggan bangun, padahal makan sahur sangat
penting untuk mengimbangi zat gizi yang tidak diperoleh tubuh selama
sehari berpuasa. Makan sahur jangan asal kenyang, tetapi harus bergizi
tinggi. Hidangan sahur harus bisa menjadi cadangan kalori dan protein,
serta membuat lambung tidak cepat hampa makanan. Dengan demikian, rasa
lapar tidak cepat dirasakan. Makanan yang cukup mengandung protein dan
lemak adalah nasi; telur, dendeng, rendang, ikan, dan tentu saja
sayuran. Dengan berbuka dan sahur secara sehat, berbagai gangguan
kesehatan bisa dihindari. Namun, bukan berarti semua orang sakit boleh
berpuasa. Hal itu sangat bengantung pada kondisi pasien dan
penyakitnya.